Statistik Pengguna

Sabtu, 17 September 2011

MAAF = LUPA ???

Setiap Manusia Di dunia
Pasti punya kesalahan.
Tapi hanya pemberani 
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati.
Hanya yang berjiwa Ksatria
Yang Mau Memaafkan.
(Sherina - Persahabatan)


Forgiven not forgotten. Termaafkan tapi tidak terlupakan. Tidak masalah, karena masalahnya bukan terlupakan atau tidak. Tapi bagaimana kemudian kita memandang sakit itu sebagai bekas luka dan tidak mengenangnya dengan rasa sakit. Kecuali jika kita mengalami amnesia dengan resiko segala kejadian dan kenangan yang terkait di situ ikut terlupakan. Yah, namanya juga resiko, , , 
(Lini Hanafiah,2009 edited: darwin zaragie)






























Selasa, 12 Juli 2011

Cinta Sejati atau Cinta Buta?

kawanku berkata:
kau ingin melihat butanya cinta?
lihatlah kasus perceraian,
atau kasus putus cinta,
perhatikan alasannya...

alasan: kami tak sepaham,
padahal sejak dahulu memang tak sepaham,
karena cinta,
dicoba untuk saling memahami,
atau diabaikan sementara ketaksepahaman itu,
siapa tahu bisa sepaham...

alasan: usia kami jauh berbeda,
padahal, perbedaan usia ada sebelum mereka saling menyinta,
karena cinta, usia bukanlah halangan,
dan ternyata, hanya bertahan sementara

alasan: ia pencemburu,
padahal kau tahu, sejak pacaran ia 'tlah sering cemburu,
jika kau akrab dengan teman lawan jenismu.
namun kau malah senang jika ia cemburu,
engkau bilang: "itu tandanya cinta!"

kala cinta tengah membara, semua yang tak enak tak nampak di mata!
kala cinta mulai menguap, alamak! baru sadar dia!
itulah butanya cinta!

lalu kawanku mengurai sekian banyak alasan lainnya,
aku sabar mendengarkannya

usai semua ia sampaikan,
aku mulai berkomentar: kau salah menilai cinta,
sesungguhnya ia tak buta!
manusialah yang menjadi buta,
karena tak tepat menakar cinta

cinta mampu membuatmu buta,
namun mampu pula membuatmu terbuka mata,
sama halnya dengan benci,
ia mampu membuatmu buta atau terbuka mata...

kala cintamu tak terkendali,
kadang kau menjadi buta,
tak hirau kenyataan yang ada,
dan kadang tumbuh rasa benci,
sebagai efek sampingnya...

aku kasih kau contoh sederhana:
misalkan kau aku kasih sebuah hadiah,
dan kau suka betul akan hadiah itu,
kau mencintainya...
suatu kali kau temukan barang yang kau cintai itu dirusak oleh seseorang,
apa yang terjadi... kau pun marah besar, kau maki orang itu,
meski ia telah meminta maaf kepadamu,
kau tak menerimanya, kau bahkan membecinya...
kau dibutakan oleh cintamu,
dan kau ciptakan kebencian atas nama cintamu...

kawanku bertanya:
lalu, macam mana contoh cinta yang membuat mata terbuka?

aku balik bertanya kepadanya:
pernahkah kau merasa iba?
atau tergerak hati membantu sesama?
jika kau menjawab "ya", itulah contoh cinta yang membuat mata terbuka
andai tak ada cinta pada dirimu, kan takkan bisa merasakan iba,
tak akan ada niat yang tumbuh dalam dirimu 'tuk membantu sesama

kawanku kembali bertanya:
kau tadi bilang, cinta sama seperti benci,
bisa membuat buta atau terbuka mata.
maukah kau kasih aku contohnya?

oooh tentu kawan,
sekarang aku tanya kau lagi: pernahkah kau benci pada sesuatu?
apa yang kau rasakan kala kau membencinya?

jawabnya: "ya! aku benci pada si Ucok"

"apa yang kau benci darinya?" tanyaku

"semuanya!" katanya

itulah tanda kau telah dibuat buta oleh rasa bencimu,
semua yang ada pada dirinya tak satupun kau suka,
karena rasa bencimu,
kebaikan yang ada pada si Ucok pun tak nampak olehmu,
yang nampak olehmu hanyalah keburukannya saja

aku kembali bertanya:
"pernah kau melihat ketakadilan terjadi di depan matamu?"

jawabnya:
"ya! aku pernah melihat nenek tua dihardik berandalan di simpang jalan!"
"aku benci melihatnya!"

aku kembali bertanya:
"pernahkah kau menghardik orang?"

"aku benci menghardik!" teriaknya

nah, itulah contoh kebencian yang membuka matamu,
karena kau benci hardikan, kau tak mau menghardik orang...

kawanku tersenyum: "bisa juga kau ya?"

Senin, 13 Juni 2011

Orang Bodoh VS Orang Pintar


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,
maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).
oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar
untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,
sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford),
Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group).
Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat S1), tapi kemudian menjadi kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??
KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’,
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil,
selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.
Dan mengabdi pada orang bodoh…
Diamanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya,
Lalu perhatikan apa yang terjadi…
(By, MARIO TEGUH, 
Edited Darwin Y. Saragih)

Kamis, 26 Mei 2011

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”

SI TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA
                    Seorang tukang kayu bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak bekerja ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
                Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri. Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
                       Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
                             Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Jumat, 01 April 2011

Puisi Terakhir Soe Hok Gie

Biografi Soe Hok Gie ( 1942-1969)



Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.


Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.


Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

Makam soe Hok Gie
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.

Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.

Kata Kata Soe Hok Gie
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.


Selasa, 22 Februari 2011

Seperti Menggantung Lonceng Di Leher KUCING


Gbr 1. Kucing memakai  Lonceng



Tak terasa kita sudah memasuki 13 tahun era reformasi di negeri ini.
Isu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), aturan yang lemah dan penegakan hukum yang mandul, tiadanya transparansi, akuntabilitas dan partisipasi dalam pengambilan keputusan publik, juga buruknya corporate governance, adalah inti perubahan yang dijanjikan di era reformasi saat menggulingkan Orde Baru. 
                                                                 

Akan tetapi, fakta di lapangan korupsi masih merajalela. Bahkan baru-baru ini diberitakan 17 dari 33 Gubernur dinyatakan terdakwa. Belum lagi oknum bupati/walikota, serta korupsi para oknum pejabat pajak, pengusaha, dan penegakan hukum yang belum sepenuhnya berjalan. 
Gbr 2. Jangan biarkan koruptor merajalela
Para ahli dari berbagai bidang membahas persoalan ini dengan berbagai metoda, tetapi barangkali, kita butuh cerita yang menginspirasi untuk menambah energi agar cita-cita tersebut tidak cukup hanya dirumuskan, tetapi melupakan pelaksanaan di lapangan.
Anda pasti pernah membaca kisahnya, "Rapat Tikus, Menggantung Lonceng di Leher Kucing" yang kami artikan: Mengucap, Merumuskan berbeda dengan Melaksanakan secara konsisten!".
***

Alkisah, dalam suatu masa sekumpulan tikus merasa terancam karena belakangan semakin banyak tikus yang korban akibat serangan kucing yang meningkat tajam. Serangannyapun datang tiba-tiba, tanpa bisa diantisipasi.
Karena itu para tikus memutuskan agar masalah mereka di bawa ke dalam rapat. Topik utamanya adalah mencari rumusan bagaimana cara agar para tikus itu mampu mengantisipasi serangan kucing sejak dini. 
Gbr 3. Rapat Tikus
Melihat topik yang demikian penting dan menyangkut kepentingan bersama, ratusan tikus-tikus menghadiri rapat itu dengan penuh semangat, antusiasme yang tinggi. Layaknya Satgas Mafia Hukum saat menemukan kasus korupsi atau mafia hukum.
Awalnya mereka sangat menggebu-gebu, seolah-olah mencegah serangan kucing itu bisa diselesaikan dengan mudah, seperti dugaan Satgas Mafia Hukum, mafia hukum selesai, seperti Sangkuriang dalam legenda Sunda yang mampu membendung sungai Citarum dan membuat perahu besar dalam semalam
Di dalam ruang rapat ber AC, ratusan tikus dengan tekun membahas satu demi satu satu solusi yang diusulkan. Tiap solusi dibahas secara cermat, dan mereka tidak peduli capek dan stress. Hingga di akhir rapat yang berlangsung berhari-hari itu, mereka tiba pada satu kesimpulan.
"Kalau di leher kucing dipasang lonceng, maka dengan mudah kita akan mengetahui posisi kucing. Sejak kucing bergerak kita sudah mampu mengantisipasi serangan".
Gbr 4. Lonceng Kucing
Lalu rumusan ini diterjemahkan ke dalam rencana kerja (action plan). Semua setuju dengan rumusan dan action plan tersebut. Semua peserta menandatangani dokumen dan mengakhirinya dengan tepuk tangan yang meriah. Tapi, semangat itu adalah di ruang rapat perumus.
Lalu, hari berikutnya, para tikus membahas soal jadwal pelaksana, dan yang terpenting para pelaksana setiap kegiatan.
Anehnya, yang paling cepat bertindak adalah para tikus yang menangani akomodasi dan perlengkapan. Bahkan belum putus dalam rapat, mereka sudah bekerja, sudah menghubungi suppliernya.
Tapi, untuk tugas utama: "Menggantung Lonceng di Leher Kucing" masih terus menggantung. "Siapa yang berani memasang Lonceng di Leher Kucing?", kata ketua Sidang.
Mendengar itu, suasana rapat berubah menjadi senyap. Mereka saling memandang satu sama lain, tanpa banyak bicara seperi vokalnya mereka merumuskan cara menggantung lonceng. Para tikus-tikus itu keder!. "Malu, Aku Malu" seperti lagunya Obbie Messakh. Sampai sidang berakhir, tidak ada yang berani. 
Gbr 5. Malu - malu tikus ^_^
Memang, kata seekor tikus yang selama ini vokal dan dialah yang menjadi inisiator ide menggantungkan lonceng tadi. "Merumuskan cara menggantung lonceng dari ruang rapat, kita berada di ruang dingin ber-AC, mendapat honor, uang transport, uang makan, dan lain-lain. Tidak ada risiko. Mengucap dan merumuskan, apalagi membeli peralatan, tidak punya risiko. Saya sebelumnya hanya mengajukan rumusan, tapi bukan melaksanakannya " katanya.
***
Kisah di atas memberi inspirasi yang menyadarkan kita semua bahwa mengucap, merumuskan sesuatu untuk pemecahan masalah, termasuk memberantas korupsi, memberantas mafia hukum, mengentaskan kemiskinan, menyejahterakan rakyat bukan hal mudah dalam pelaksanaannya.
Rumusan yang baik bagi kepentingan rakyat banyak menghadapi banyak konflik kepentingan. Mewujudkannya butuh keberanian, kreativitas, outbox thinking. Jika tidak, maka ucapan atau rumusan itu hanyalah hasil "rapat tikus".
Ucapan, rumusan memerlukan pemimpin leader yang berani mengeksekusi hingga tuntas, bukan setengah-setengah, atau istilah Gayus Tambunan, "mencicil-cicil kasus".
Para pejabat adalah leader yang harus memahami risiko mewujudkan sesuatu konsep, apalagi menyangkut masalah korupsi. Rumusan dari ruang ber-AC, tidak serta merta dapat dilaksanakan di lapangan semudah membalik telapak tangan, apalagi rumusan itu ingin berhasil dan dirasakan masyarakat. Pemimpin harus bertanggungjawab,kalau sasaran dalam tanggungjawabnya tidak beres. Bukan "Mencari Alasan", seperti lagu populer Exist asal Malaysia di era 1990-an, apalagi hanya peduli pencitraan.
Pemimpin tidak hanya menunjukkan sikap optimis ketika konferensi pers ketika menemukan kasus. Seperti Deny Indrayana, Ketua Satgas Mafia Hukum yang begitu optimis ketika mengungkap Gayus - yang sebelumnya bebas, kemudian dinyatakan tersangka. Sikap optimis para pejabat ketika menggelar konferensi pers tentang rumusan pemberantasan korupsi, bukan seperti tukang koyok, yang begitu saja bisa dilupakan. 
Gbr 6. Komik gayus kocak
Padahal, seperti diberitakan televisi, menjaga Gayus bertahan di penjarapun oknum-oknum keamanan kita tidak mampu. Sebagai orang tahanan, Gayus bisa keluar masuk 68 kali-pergi ke Bali, ke luar negeri tanpa mampu di monitor. Malah ada yang mengatur dan melibatkan pejabat-pejabat Imigrasi.
Aktor-aktor yang menamakan dirinya pemberantas korupsi menghindar dari tugas "Menggantung Lonceng di Leher Kucing".
Sudah saatnya menghentikan rakyat menonton penuntasan korupsi di televisi, seperti menonton bola yang tidak memiliki stiker yang jitu. Hanya menggoreng-goreng di depan gawang, tanpa pernah mencetak gol. Bahkan bolanya sering ditendang ke luar, tanpa peduli waktu permainan akan habis.
Buktikan sasaran ucapan, rumusan dilaksanakan secara konsisten di lapangan, mencapai rumusan rapat tikus: menggantungkan lonceng di leher kucing. Memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.
Jangan tunggu rakyat menjadi pemain. Itu namanya mereka tidak percaya kepada para penegak hukum, akibatnya, juga kepada pemerintah. Kalau ini berlangsung terus, dan rakyat makin bosan, maka mereka akan mengambil alih semuanya. Cukup banyak pelajaran dari para pemimpin terdahulu. Saat kekuasaan melupakan rakyat, kekuasaan tak akan berarti apa-apa.
***
Mengakhiri artikel ini, kami mengingatkan bahwa leader yang memimpin pelaksanaan rumusan penanganan korupsi dan berbagai tugas penting untuk tujuan kepentingan masyarakat menghadapi resiko. Dalam pelaksanaannya terdapat "kucing-kucing" yang sangat berbahaya, dan siap menerkam. Mereka adalah orang yang mementingkan diri sendiri, dan kelompoknya, dan melupakan kepentingan bangsa secara keseluruhan.
Artikel ini sekali lagi mengingatkan kita semua, "Mengucap, merumuskan tidak sama dengan melaksanakan, dan mewujudkannya di lapangan". Kita butuh eksekutor : "Menggantungkan Lonceng di Leher Kucing!". Marilah kita berdoa, semoga di Indonesia muncul orang yang berani, outbox thinking, dan tidak suka pencitraan!. ***
sumber : (Jannerson Girsang - freelance, pengamat sosial.  Edited :  Darwin Saragih)

Sabtu, 29 Januari 2011

With FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA PEDULI LINGKUNGAN (FORMALIN)

Turun ke masyarakat, tinggal dan berbaur dengan masyarakat terpencil sebagai wujud peduli akan keberadaan mereka. Sekaligus mengadakan penelitian dan sosialisasi sistem pengelolaan hutan.









OFF ROADER SEJATI


Nih baru namanya OFF ROADER sejati, Menembus Hutan Belantara , Sungai, Dan Jalan yang terjal dan berbahaya demi wujud pengabdian kepada masyarakat daerah terpencil/ pedalaman Papua Barat. (Bukan cuma sekedar cari duit ^_^)